
Sumbawa Barat – (Mediapilarindonesia) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) melaksanakan uji rute jogging track pariwisata kerakyatan di Kecamatan Brang Ene Kabupaten Sumbawa Barat, Sabtu (8/8/2026).
Ketua PWI Sumbawa Barat, Hairil Wansa Zakariah dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk keterlibatan insan pers dalam mendukung pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Kabupaten Sumbawa Barat.
” Kegiatan ini merupajan bagian dari kegiatan jalan perjuangan pariwisata kerakyatan yang di gelar dua hari, 8 -9 Agustus 2026,” kata Hairil.
Lanjut Hairil, kegiatan ini sekaligus untuk memperkenalkan dan mendorong pengembangan potensi pariwisata berbasis masyarakat di Sumbawa Barat.
Adapun Rute Jogging track yang akan di tempuh sepanjang 6 kilometer.Jalur dimulai dari rute tersebut mengusung konsep kembali ke alam dengan memanfaatkan bentang alam yang sudah ada.Jalur di buat dengan tetap mempertahankan aktivitas pertanian masyarakat sehingga kegiatan pariwisata tidak mengganggu aktivitas warga.
“Kegiatan ini melanjutkan agenda PWI sebelumnya yang mengangkat tema pariwisata berbasis melalui touring camp di Sembalun di bulan Juni 2026 lalu ,” ujar Hairil.
Hairil memaparkan Pariwisata berbasis masyarakat di Sembalun,kami anggap bahwa perilaku kehidupan masyarakat di Sembalun,dalam kontek pariwisata sangat luar biasa.
Ia menerangkan potensi pariwisata tidak hanya berada pada destinasi yang sudah di kenal luas.Kehidupan masyarakat,budaya serta kekayaan alam di tingkat desa juga dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata.
“Pagi ini kegiatan jelajah jalan perjuangan pariwisata kerakyatan Sumbawa Barat.ini sebagai ikhtiar kami dalam mendukung program pemerintah untuk berpartisipasi aktif menyukseskan agenda tersebut,” tegasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahragaa (Parpora) Sumbawa Barat Nurdin Rahman sangat mengapresiasi kegiatan yang di gelar PWI KSB.
” Media memiliki peran penting dalam memperkenalkan berbagai potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Sumbawa Barat kepada masyarakat luas,” tuturnya.
Ia sangat berterima kasih kepada rekan PWI untuk menyebarkan informasi tentang pariwisata.
Nurdin menjelaskan pengembangan pariwisata Sumbawa Barat di arahkan pada Konsep pariwisata berbasis masyarakat.
Menurut Kadis Pariwisata Pemerintah mendorong setiap desa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki,mulai dari budaya lokal,sungai,gunung hingga kekayaan alam lainnya.
“Program Pak Bupati, klaster pariwisata, beliau memilih pariwisata ini berbasis masyarakat. Bagaimana desa-desa punya potensi sendiri membangun pariwisata, bagaimana budaya lokal, sungai, gunung, pengelolaan sampah dan memanfaatkan sebanyak-banyaknya program pemerintah,” ucapnya.
Sejumlah fasilitas penunjang pariwisata akan dibangun di Kecamatan Brang Ene. Fasilitas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mengembangkan potensi wisata sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Ia menilai keberhasilan pariwisata tidak cukup hanya diukur dari tingkat kunjungan. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana keberadaan destinasi tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Banyak pariwisata tidur tingkat keberhasilan tinggi namun dampak kesejahteraan tidak bisa didongkrak. Ini yang ingin kita laksanakan agar masyarakat bisa mendapatkan manfaat sebesar-besarnya,” tegasnya.
Nurdin mengatakan setiap wilayah memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda. Perbedaan tersebut menjadi modal untuk dikembangkan menjadi paket wisata.
“Pariwisata adalah perbedaan. Kita berbeda dengan daerah lain karena potensinya berbeda pula. Ini yang akan kita jadikan paket pariwisata,” katanya.
Rute jogging track Brang Ene menjadi salah satu contoh bagaimana alam dan kehidupan masyarakat dapat dipadukan sebagai daya tarik wisata.
Sepanjang rute, peserta dapat melihat langsung aktivitas pertanian warga, kawasan permukiman, pegunungan hingga Bendungan Ganerong.
Nurdin berharap masyarakat Sumbawa Barat tidak hanya menjadi penonton dalam pengembangan sektor pariwisata. Masyarakat harus menjadi bagian dari pengelolaan sekaligus pihak yang memperoleh manfaat dari potensi wisata di wilayahnya.
“Kalau orang luar belum bisa merasakan, paling tidak kita masyarakat Sumbawa Barat bisa merasakan apa itu gunung, apa itu sungai dan potensi-potensi lainnya,” ujarnya.
Pengembangan pariwisata tersebut juga harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan. Konsep kembali ke alam yang diterapkan pada rute jogging track Brang Ene diharapkan dapat menjadi contoh bahwa aktivitas wisata bisa dikembangkan tanpa menghilangkan fungsi kawasan dan aktivitas masyarakat.
“Mari bagaimana alam ini kita jaga, karena alam adalah warisan untuk anak cucu kita. Semoga anak cucu kita menikmati karena alam yang berkelanjutan,” tukasnya.(MPI – 01)